Tren penjualan
apartemen/kondominium di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi terus
meningkat. Rata-rata lebih dari 6.000 unit apartemen terjual setiap tahun
sepanjang 2007-2011. Bahkan, dalam setahun terakhir jumlah apartemen yang
terjual mencapai 95 persen dari unit yang tersedia di pasaran. Krisis ekonomi
Eropa yang berimbas di Indonesia pada beberapa tahun terakhir juga tidak banyak
berpengaruh pada bisnis properti ini.
Harga apartemen yang terus melangit
juga tidak banyak memengaruhi minat pembeli. Data yang diolah dari Bank
Indonesia menunjukkan, setiap tahun rata-rata harga apartemen naik Rp 7 juta
per meter persegi. Bayangkan, harga apartemen per meter persegi yang lima tahun
lalu sebesar Rp 9,2 juta sekarang sudah mencapai Rp 16 juta. Bahkan, mengutip
data dari konsultan properti Colliers International Indonesia, harga apartemen
di central business district (CBD) di Jakarta rata-rata Rp 27,5 juta per meter
persegi.
Khusus untuk Jakarta, wilayah
Jakarta Selatan dan CBD menjadi pusat sebaran apartemen. Lokasi hunian yang
berada di tengah kota atau mendekati pusat kegiatan bisnis lebih diminati
dibandingkan dengan lokasi lain. Keunggulan lokasi tersebut menambah daya tarik
untuk memiliki hunian vertikal ini, baik untuk ditinggali sendiri maupun
sebagai investasi. (Sugihandari/Litbang
Kompas)
Nampaknya kebutuhan akan tempat
tinggal di daerah yang tinggi tansaksi ekonominya cukup besar. Hal ini
terbukti, dengan kenaikan harga tiap tahunnya tidak mengurangi peminat para
pembeli. Alasan berinvestasi, menjadi salah satu penjelas mengapa apartemen
laris manis terjual. Karena dari tahun ketahun sudah pasti harga jual kembali
apartemen lebih tinggi, terlebih apabila didukung dengan kemajuan dan
pembangunan kota sekitar. Berbeda dengan berinvestasi dalam bidang otomotif
yang harganya semakin menyusut dari tahun ketahun. Hal ini menunjukkan jika
kemampuan masyarakat sudah lebih tinggi terhadap minat pembelian maupun
investasi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar