Tentang yang punya blog ini....

Foto saya
Depok, Depok, Indonesia
I just a simple girl who try to be a good person, not for my self but for my parents and my family.I just wanna see them to be proud with me,, I'm not the perfect one, but I always try to be better.

27/12/12

Kartu Jakarta Pintar Sedot Anggaran Rp 804 M


Liputan6.com, Jakarta : Dinas Pendidikan DKI Jakarta menerima dana paling besar dari RAPBD 2013. Ini sesuai dengan keinginan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang menjadikan sektor pendidikan sebagai penerima dana terbesar untuk anggaran tahun depan.
"Sampai sejauh ini RAPBD 2013 Rp 11,5 triliun untuk Dinas Pendidikan, persentasenya 26-27 persen dari APBD secara keseluruhan di DKI Jakarta," ujar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, usai rapat dengan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Senin (10/12/2012).
Salah satu pos penerima dana itu, lanjutnya, adalah para pelajar yang mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP). Di tahun 2013 diperkirakan ada sekitar 332 ribu anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu yang akan menerima KJP. "Setelah dikalkulasi, Rp 804 miliar untuk KJP," jelasnya.
Rinciannya, untuk jenjang SMA sebesar Rp 240 ribu per bulan setiap peserta didik, jenjang SMP Rp 210 ribu per bulan, dan untuk jenjang SD Rp 180 ribu per bulan.
Selain itu, sekitar 55 persen atau hampir Rp 6,4 triliun dialokasikan untuk belanja pegawai berupa gaji tunjangan kinerja daerah, tunjangan profesi, sampai pada tunjangan tambahan guru yang di bawah Kementerian Agama. "Yang di bawah Kementerian Agama kami kasih Rp 1 juta per bulan," katanya.
Sisanya, Rp 3 triliun digunakan untuk bantuan operasional pendidikan (BOP) dan Rp 1,5 triliun dialkokasikan untuk belanja langsung. "Jadi Rp 10,2 triliun boleh dikatakan belanja tetap yang sudah pasti kita keluarkan pada sasaran masing-masing," kata Taufik.
Dia mengatakan, tahun ini anggaran untuk Dinas Pendidikan sekitar Rp 10 triliun atau 28 persen dari APBD 2012. "Persentasenya sama, tapi kan tahun ini anggaran DKI Rp 40 triliun, tahun depan mencapai Rp 46 triliun," pungkas Taufik.(Ado)

Sektor pendidikan memang layak untuk mendapat persentase paling besar dalam APBD. Hal ini untuk mendukung kemajuan dunia pendidikan serta memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak yang ingin bersekolah namun tidak memiliki biaya. Lewat dunia pendidikan, pemerintah akan menciptakan generasi-generasi muda berkualitas yang tentunya akan menjadi penerus bangsa. Namun dalam pendistribusian dana tersebut, tentunya harus dilakukan pengawasan yang ketat agar tidak disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu.

Suryadi, Mantan Penjaga Toko yang Sukses di Bra


Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal

KOMPAS.com - Jalan Suryadi Sasmita menuju sukses terbilang panjang. Maklumlah, resep sukses Suryadi terbilang sederhana: kerja, kerja, dan kerja. Ketekunan Suryadi selama puluhan tahun tidak sia-sia jika melihat popularitas merek pakaian dalam Wacoal.

Di balik nama besar pakaian dalam wanita ini ada kerja keras Suryadi Sasmita. Memulai usaha dari nol, Suryadi kini menikmati penjualan Wacoal yang selalu naik 30 persen per tahun.
Wacoal kini memiliki lebih dari 50 gerai. Angka itu belum termasuk ratusan gerai Wacoal yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan. “Kalau soal aset, sudah tentu bertambah bila dibandingkan dengan awal menjalankan usaha,” kata  Suryadi, yang menyandang status sebagai Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal.

Ayah dari tiga orang ini kini memiliki sepuluh perusahaan di bidang garmen. Namun, kesuksesan itu tidak datang dengan mudah. Maklum, pria kelahiran Jakarta 12 April 1948 ini berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Suryadi menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus mengurus kelima adiknya. Faktor itulah yang menuntutnya untuk bekerja keras. Bersama sang ayah, dia membuka usaha konveksi tas. Sayang, usaha itu harus gulung tikar karena bangkrut.

Lulus SMA, Suryadi bekerja di toko tekstil di Pasar Pagi, Jakarta, sebagai penjaga toko. Untuk mendapatkan penghasilan lebih, ia bekerja hingga dua sif. Sikap kerja kerasnya ini menarik perhatian bosnya. Suryadi pun dikuliahkan di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Sambil kuliah, ia  tetap bekerja. Bahkan lebih keras bekerja, akibatnya dia tidak berkonsentrasi untuk kuliah.

Baru enam bulan duduk di bangku kuliah, Suryadi memilih keluar dan fokus bekerja. Maklum, ia harus membantu menghidupi keluarganya. Dari hasil bekerja di toko, Suryadi mampu membeli toko kecil di daerah Jembatan Lima. Toko itu dikelola oleh anggota keluarganya, sementara Suryadi tetap bekerja di Pasar Pagi. 

Setelah empat tahun bekerja sebagai penjaga toko, Suryadi pindah jalur menjadi karyawan di pabrik perusahaan tekstil asal Jepang, C. Itoh. Di perusahaan tekstil kelas dunia itulah, Suryadi mengawali karier sebagai pengantar dokumen. “Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau hanya bekerja sebagai pengantar dokumen. Saya pun memberanikan diri menghadap ke pimpinan perusahaan dan meminta pekerjaan saya ditambahi. Saya minta diizinkan berjualan benang,” tutur dia.

Permintaan Suryadi dipenuhi sang atasan. Ia pun merangkap tugas. Dari pagi hingga sore, ia menjadi pengantar dokumen. Begitu matahari beranjak ke barat hingga malam hari, Suryadi menjadi salesman. “Target penjualan setahun bisa saya penuhi dalam setengah tahun. Saya pun diangkat menjadisalesman,” tutur dia.

Bersamaan dengan karier yang melesat, jaringan Suryadi kian luas. Sekitar tahun 1976, Suryadi mampu mendirikan perusahaan trading bernama Moritex Trading Company. Tahun berikutnya, ia membuka usaha rajut (knitting) bernama Moritex Knitting. “Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari. Selama pagi hingga sore, saya masih bekerja sebagai sales representative di C. Itoh,” kenang dia.

Menjalin pertemanan
Baru setelah delapan tahun bekerja di C.Itoh, Suryadi mundur dan fokus ke perusahaannya. “Tiba-tiba, ada pelanggan saya yang menawarkan usaha lain. Pada 1980, dia menawarkan lisensi Wacoal yang diperolehnya,” ujar Suryadi.

Menjadi salesman merupakan kesempatan Suryadi membuka jaringan yang seluas-luasnya. “Prinsip saya, sales itu jangan hanya berdagang yang ada di kepala. Tapi, bagaimana memberikan informasi produk yang benar ke calon klien dan membangun pertemanan. Kalau mereka merasa puas, pasti akan pesan,” kata dia. 

Dari jaringan itu, Suryadi dipercaya seorang pelanggannya untuk mengelola perusahaan pakaian dalam wanita asal Jepang bermerek Wacoal. “Dia menilai saya pekerja keras, jadi dia percaya jika saya yang pegang lisensi Wacoal,” ucapnya.

Ia pun menutup usaha trading dan knitting, serta fokus mengelola Wacoal. “Ternyata tidak mudah. Dalam lima tahun pertama, saya rugi,” kenangnya. Hal itu dikarenakan sulitnya memasarkan produk pakaian dalam yang harganya jauh lebih mahal daripada harga produk sejenis yang sudah ada. Apalagi, saat itu, belum banyak department store.

Suryadi pun mengerahkan keluarga dan jaringannya untuk mempromosikan Wacoal. Nama Wacoal perlahan terdengar. Di tahun ke enam, Wacoal akhirnya meraup untung. “Sepuluh tahun pertama, kami harus kerja keras memperkenalkan Wacoal. Hingga akhirnya di sepuluh tahun kedua, Wacoal mampu dipasarkan secara nasional,” terang Suryadi.

Memasuki dekade ketiga atau sekitar tahun 2000, Wacoal buatan Indonesia masuk ke pasar luar negeri. Dari pabrik seluas 2,7 ha, produk Wacoal kini mengalir ke sembilan negara. Masing-masing Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Taiwan, Jepang, China, dan Amerika Serikat. (Fransiska Firlana/Kontan)

Cerita Bapak Suryadi sungguh sangat menginspirasi. Dari seseorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, kini beliau dapat menjadi Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal. Gerai tokonya kini dapat kita temukan di berbagai pusat perbelanjaan. Sungguh patut dicontoh kerja kerasnya. Dan bagi kita yang ingin berwirausaha, jangan berkecil hati. Teruslah konsisten dalam mencapai keinginan- keinginan tersebut, karena selama kita berusaha, kesempatan akan menanti.

Omzet Ratusan Juta dari Broker Waralaba


KOMPAS.com - Bisnis waralaba terus menggeliat dalam beberapa tahun terakhir. Minat orang terhadap waralaba ini juga membawa berkah bagi para broker atau agen pemasaran waralaba. Tak heran, bila bisnis broker waralaba semakin moncer.

Biasanya, selain bisnis waralaba, broker ini juga memasarkan bisnis dengan skema kemitraan atau business opportunity (BO). Salah satu pemain yang berprofesi sebagai broker waralaba adalah Sidik Rizal di Jakarta.

Ia telah terjun ke bisnis ini sejak tahun 2008. Sebelum bergelut dengan dunia broker waralaba, ia bekerja sebagai seorang desain grafis di perusahaan biro periklanan. Namun, karena tak suka menjadi karyawan, ia pun terpikir membuat usaha sendiri.

Awalnya, Sidik fokus menawarkan keahliannya membuat website ke sejumlah pelaku usaha. Kebetulan, banyak kliennnya yang menawarkan kerjasama waralaba dan kemitraan.

Salah satu kliennya pertamanya adalah Pecel Lele Lela. Setelah kerap membuatkan website, Rizal pun semakin akrab dengan dunia usaha. Ia banyak belajar mengenai waralaba dan kemitraan.

Sejak itu, bisnisnya berkembang dari sekadar membuatkan website menjadi broker franchise. Untuk menjaring klien, Rizal getol mendekati para pelaku usaha. Ia menceritakan, pada awal-awal menjadi broker, dirinya sempat berkeliling di daerah Bekasi, Jawa Barat, guna mencari klien.

Jika melihat ada usaha yang prospek dikembangkan, Rizal mengajak si pemilik usaha untuk bekerjasama mengembangkan bisnis melalui skema waralaba.

Sebagai seorang broker, Rizal akan memoles usaha tersebut agar menarik ditawarkan ke para investor. Secara teknis, banyak hal yang dilakukannya demi memperbaiki citra usaha yang akan dijualnya.

Di antaranya, membuatkan standar operasional untuk usaha tersebut, termasuk membantu mengubah manajemen usahanya.

Selain itu, fungsi broker ini membantu menyediakan karyawan sesuai kebutuhan. Rizal juga membuatkan konsep desain interior yang baru ke kliennya.

Terakhir, tentu saja membuatkan website. Setelah semuanya siap, barulah Rizal memasarkan usaha tersebut. Ada satu tips yang dimilikinya agar usaha kliennya bisa berkembang dalam konsep kemitraan.

Yakni, memaksimalkan peran media sebagai saluran pemasaran, baik media elektronik maupun internet. Menurut Rizal, proses yang dibutuhkan untuk mengubah usaha biasa menjadi waralaba sekitar satu bulan sampai tujuh bulan.

Biaya yang dipungut sebagai broker sangat bervariatif. Untuk usaha kecil yang mengusung konsepbooth, Rizal biasanya memungut biaya antara Rp 5 juta– Rp 15 juta.

Biaya untuk usaha menengah sekitar puluhan juta, dan kelas restoran bisa sampai ratusan juta. "Untuk kelas restoran ini, biaya paling mahal sampai Rp 500 juta per paket," tutur Rizal.

Di luar itu, Rizal juga mendapat komisi dari setiap investor yang bergabung sebagai terwaralaba atau mitra. Besaran komisinya 5 persen–10 persen dari nilai paket investasi. Dari usaha ini, Rizal bisa mengantongi omzet Rp 100 juta per bulan.

Agen waralaba lainnya adalah Mulyadi Handojo, Komisaris PT Mahir Food di Jakarta. Berdiri tahun 2012, perusahaan anyar ini langsung menggandeng PT Best Waralaba sebagai perusahaan agen waralaba yang sudah senior di bisnis broker waralaba.

Best Waralaba sendiri sudah sukses memasarkan beberapa usaha, seperti Jupe Fried Chicken, Rocket Fried Chicken, dan Tokiyo Bento. Kebanyakan usaha itu milik para artis dan publik figur.

Bekerjasama dengan Best Waralaba, Mahir Food juga fokus memasarkan usaha yang dimiliki para artis dan publik figur. Mereka memilih memasarkan usaha artis karena cepat berkembangnya dibanding orang biasa.

Sebagai broker, Mahir Food tidak hanya memoles sebuah usaha agar menarik ditawarkan ke para investor. Tapi juga membuatkan usaha bagi para artis tersebut.

Jadi, saat ditawari kerjasama, banyak artis yang sebenarnya belum memiliki usaha. "Usahanya kami buatkan sendiri," katanya.

Cuma, sudah ada kesepakatan sebelumnya bahwa si artis bersedia menanamkan modal dan membolehkan namanya dipakai sebagai brand usaha. Sebagai payung hukum, nanti dibuat PT atau CV yang menaungi brand tersebut.

Saat ini, misalnya, Mulyadi sedang menjajaki kerjasama dengan presenter terkenal Chantal Della Concetta untuk membuka rumah makan steak (steik). "Nanti diluncurkan awal 2013," katanya.

Kata Mulyadi, butuh waktu tiga bulan sampai usaha kuliner ini bisa diluncurkan. Mulyadi menunggu setahun agar omzetnya jelas dan terbukti manajemen bisa berjalan lancar baru menawarkan kemitraan. Mahir Food berhak atas 40 persen saham perusahaan itu. (Revi Yohana, Marantina/Kontan)  


Banyaknya bisnis waralaba yang kini banyak bermunculan tentu sangat membutuhkan jasa para broker untuk memperkenalkan usaha mereka pada masyarakat. Broker waralaba ini tentunya sangat membuka peluang pekerjaan. Tanpa broker, suatu bisnis waralaba akan lambat untuk dikenal masyarakat. Cara yang digunakan oleh broker juga efisien, seperti membuat web waralaba yang mereka ingin perkenalkan. Cara ini cukup baik, karena penggunaan dunia maya sebagai area pemasaran lebih mudah untuk ditujukan pada sasaran waralaba yang dimaksud. 

11/12/12

Sinonim, Hiponimi, Homonimi, Polisemi dan Antonimi


Sinonim

  • Binatang = Fauna

Komodo merupakan salah satu binatang langka yang dilindungi oleh pemerintah.
Di Ragunan terdapat berbagai jenis macam fauna yang unik.

  • Baju = Pakaian

Risa memakai baju baru di hari raya Idul Fitri.
Kakak membeli pakaian baru di Toko Swalayan. 

 Hiponimi
  • Buah = apel, jeruk, pisang

Kakak sedang ke Pasar untuk membeli buah, diantaranya apel, jeruk dan pisang.

  • Kue = bolu, serabi, bika ambon

Ibu sedang membuat bermacam-macam kue untuk acara ulang tahun adik, diantaranya bolu, serabi dan bika ambon.

Homonimi

  • Amplop

Tedi sedang menulis alamat pada amplop yang akan digunakan untuk mengirim surat kepada temannya. (amplop = amplop surat biasa)
Agar bisa disetujui perizinanya, ia memberi amplop kepada para pejabat  (amplop = sogokan atau uang pelicin)

  • Bisa

Wawan bisa bermain gitar dengan sangat baik. (bisa = mampu)
Bisa ular cobra itu sangat berbahaya dan mematikan. (bisa = racun)

Polisemi

  • Apel

Setiap hari Senin, Dini mengikuti apel pagi di sekolahnya. (apel disini maksdunya upacara).
Ibu membawakan sekeranjang apel untuk menjenguk temannya yang sedang sakit. (apel disini maksudnya buah).
  • Darah

Saya masih punya hubungan darah dengan keluarga Bu Rani.
Wajahnya berlumuran darah setelah kepalanya terbentur tembok.

Antonimi

  • hidup : mati

Hidup dan mati seseorang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita tidak bisa menentukan takdir.

  • naik : turun

Akibat tidak suka berolah raga, berat badan Rina naik 5 kg.
Karena sedang musim cabai, harga cabe merah di pasar menjadi turun.