Tentang yang punya blog ini....

Foto saya
Depok, Depok, Indonesia
I just a simple girl who try to be a good person, not for my self but for my parents and my family.I just wanna see them to be proud with me,, I'm not the perfect one, but I always try to be better.

22/04/14

Tugas II Softskill Akuntansi Internasional



      1.      Apa cakupan dari istilah informasi yang melihat masa depan?

Jawab :
a.         Laporan rencana manajemen dan tujuan operasi di masa depan.
b.         Ramalan pendapatan, laba rugi, laba rugi per tahun ( EPS ), pengeluaran modal, dan juga pos keuangan lainnya.
c.         Informasi prospektif mengenai kinerja atau posisi ekonomi masa depan yang tidak terlalu pasti bila dibandingkan dengan proyeksi pos, periode fiskal, dan proyeksi jumlah 

       2.      Jelaskan secara singkat perbedaan antara pengukuran akuntansi dan pengungkapan   akuntansi. Dari dua proses akuntansi ini manakah yang menurut anda akan menunjukan kemajuan inovatif besar selama 10 tahun mendatang? Mengapa?

Jawab :
Pengukuran akuntasi                 :
Proses mengidentifikasikan, mengelompokkan dan menghitung aktivitas ekonomi atau transaksi. Pengukuran ini memberikan masukan mendalam mengenai profitabilitas operasi suatu perusahaan dan kekuatan posisi keuangannya.

Pengungkapan akutansi :
Standard dan praktik pengungkapan dipengaruhi oleh sumber-sumber keuangan, sistem hukum, ikatan politik dan ekonomi, tingkat pembangunan ekonomi, tingkat pendidikan, budaya dan pengaruh lainnya.

Yang menunjukkan kemajuan inovatif yang besar selama 10 tahun mendatang adalah pengungkapan akuntansi, karena meskipun praktik pegungkapan sangat berbeda-beda di setiap Negara, tetapi sekarang perlahan mulai timbul kemiripan (konvergensi) dengan secara sukarela mengadopsi standar pelaporan keuangan internasioal (IFRS) atau GAAP Amerika serikat, mematuhi ketentuan pasar bursa efek dan badan regulator domestic dan luar negeri memberikan respon terhadap berbagai permintaan informasi yang diajukan para investor dan analis.

      3.       Jelaskan alasan – alasan perusahaan dengan operasi luar negeri melakukan translasi?

Jawab :
Alasan untuk translasi mata uang asing adalah
1. untuk mencatat transaksi mata uang asing
2. mengukur resiko suatu perusahaan terhadap pengaruh perubahan mata uang asing
3. berkomunikasi dengan para pihak berkepentingan dari luar negeri
Perusahaan dengan operasi luar negeri yang signifikan menyusun laporan keuangan konsolidasi yang memungkinkan para pembaca laporan untuk mendapatkan pemahaman yang utuh atas operasi perusahaan, baik domestic dan luar negeri. Untuk itu untuk mencapai hal ini laporan keuangan anak perusahaan luar negeri yang berdenominasi dalam mata uang asing disajikan ulang dengan mata uang pelaporan induk perusahaan.
Proses penyajian ulang informasi keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya disebut Translasi. Translasi hanyalah perubahan satuan unit moneter, misalnya pada sebuah neraca yang dinyatakan dalam pound Inggris disajikan ulang ke dalam nilai ekuivalen dolar AS. Tidak ada pertukaran fisik yang terjadi, dan tidak ada transaksi terkait yang terjadi seperti bila dilakukan konversi (pertukaran dari satu mata uang ke mata uang lain secara fisik).

       4.      Sebutkan keuntungan dan kerugian dari translasi?
   
Jawab :
Keuntungan dan kerugian translasi mata uang asing :
a.                   Penagguhan
Perubahan nilai ekuivalen mata uang domestic dari aktiva bersih anak perusahaan luar negeri tidak direalisasikan dan tidak berpengaruh terhadap arus kas mata uang local yang dihasilkan dari entitas asing. Penyesuaian translasi harus diakumulasikan secara terpisah sebagai bagian dari ekuitas konsolidasi.
b.                   Pengangguhan dan Amortisasi
Penangguhan keuntungan atau kerugian translasi dan melakukan amortisasi penyesuaian ini selama masa manfaat pos-pos neraca terkait, terutama yang terkait dengan utang akan ditangguhakan dan diamortisasi selama umur aktiva tetap terkait, yaitu dibebankan terhadap laba dengan cara yang sama dengan beban depresiasi atau ditangguhkan dan diamortisasi selama sisa masa pinjaman sebagai penyesuaian terhadap beban bunga.
c.                   Penangguhan parsial
Keuntungan dan kerugian translasi adalah dengan mengakui kerugian sesegera mungkin setelah terjadi, tetapi mengakui keuntungan hanya setelah direalisasikan, hal ini semata-mata hanya karena merupakan keuntungan, tetap mengabaikan terjadinya perubahan kurs.
d.                   Tidak ditangguhkan
Mengakui keuntungan dan kerugian translasi dalam laporan laba rugi sesegera mungkin. Namun, memasukkan keuntungan dan kerugian translasi dalam laba tahun berjalan akan memperkenalkan elemen acak ke dalam laba sehingga dapat menghasilkan fluktuasi laba yang sangat signifikan apabila terjadi perubahan kurs nilai tukar.
Keuntungan dan kerugian translasi ini mencerminkan kenaikan atau penurunan ekuitas investasi dalam mata uang domestic dan harus diakui.
      5.      Apa saja yang harus diungkapkan oleh perusahaan yang melakukan pelaporan?

Jawab :
Pada umunya terdapat lima macam informasi kualitatif yang perlu diungkapkan terhadap setiap pos dan jumlah yang tercantum dalam laporan keuangan, yaitu :
a.                   Ketidakpastian (Contigencies)
Yaitu peristiwa-peristiwa yang kemungkinan akan terjadi di masa yang akan datang dan mempengaruhi secara material terhadap keadaan keuangan perusahaan. Unsur-unsur ketidakpastian tentang suatu transaksi yang kemungkinan akan terjadi dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian.
Unsur ketidakpastian yang menimbulkan suatu keuntungan, dapat meliputi semua klaim atau hak yang terjadinya belum dapat dipastikan tetapi ada kemungkinan akan menjadi hak milik perusahaan yang sah. Sehingga ketidakpastian yang menimbulkan keutungan ini tidak dicatat sampai dengan transaksi tersebut benar-benar terjadi. Dan dapat diungkapkan sebagai informasi tambahan dari neraca, apabila tingkat kepastiannya cukup besar.
Sebaliknya kemungkinan timbulnya suatu kerugian harus diakui/dicatat dengan dibebankan kepada laba (rugi) periodik dan mengakuinya sebagai hutang. Kadang-kadang suatu kerugian di masa yang akan datang hanya merupakan suatu kemungkinan yang bisa terjadi dan tidak sebagai satu-satunya kemungkinan sehingga adanya suatu hutang (kewajiban) tidak perlu dicatat. 
b.                   Dasar Penilaian dan Kebijakan Akuntansi
Pengungkapan tentang dasar atau metode penilaian yang digunakan perusahaan seperti, metode penilaian persediaan perlu diungkapkan dalam laporan keuangan. 
c.                   Perubahan Akuntansi
Yaitu pengungkapan terhadap perubahan atas kebijakan yang digunakan perusahaan seperti perubahan metode penilaian persediaan dari FIFO menjadi LIFO dan sebagainya. 
d.                   Keterikatan dengan Suatu Perjanjian atau Kontrak
Yaitu pengungkapan mengenai adanya pembatasan-pembatasan atau keterikatan dari satu atau lebih aktiva terhadap hutang/kontrak.
e.                   Peristiwa - Peristiwa Kemudian Setelah Tanggal Neraca
Penjelasan tentang suatu kejadian/peristiwa yang (telah terjadi sesudah tanggal neraca) tetapi sebelum laporan keuangan dipublikasikan merupakan informasi penting yang perlu diungkapkan.

Peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca dan sebelum laporan keuangan dipublikasikan antara lain :

a) Peristiwa yang mempengaruhi secara langsung jumlah elemen yang disajikan dalam laporan keuangan.
Peristiwa ini muncul karena pengetahuan yang tidak lengkap selama periode akuntansi dan hasil dari perubahan-perubahan dalam penilaian estimasi baru diperoleh setelah tanggal neraca.
b) Peristiwa yang dapat mengubah secara material validitas penilaian neraca atau hubungan diantara pemegang saham atau yang secara material validitas mempengaruhi manfaat kegiatan yang dilaporkan tahun sebelumnya sebagai prediksi periode berjalan.
Peristiwa ini tidak secara langsung mempengaruhi laporan keuangan periode sebelumnya tetapi dapat mempengaruhi keputusan yang diambil atas dasar laporan tersebut.
c) Kejadian-kejadian yang mungkin mempengaruhi secara material operasi atau penilaian di masa yang akan datang.
Kejadian-kejadian ini memiliki pengaruh yang tidak diketahui atau tidak pasti terhadap pendapatan dan penilaian di masa yang akan datang.

Sumber :

10/04/14

Astra Sedaya Finance dapat utang Rp 1,95 T dari 30 bank Asia

MERDEKA.COM. Perusahaan pembiayaan, PT Astra Sedaya Finance (ASF) mendapatkan fasilitas pinjaman USD 670 juta atau Rp 1,95 triliun. Dana tersebut digunakan untuk sebagai modal kerja pembiayaan kendaraan bermotor.

Presiden Direktur ASF, Jodjana Jody, mengatakan dana tersebut berasal dari Obligasi Berkelanjutan II Astra Sedaya Finance dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap III Tahun 2014 dan dari Syndicated Loan lebih dari 30 bank di Jepang, Taiwan dan Asia lainnya.

"Untuk memenuhi target di tahun 2014 tentunya kami membutuhkan pendanaan dari obligasi, pinjaman dan juga dari alternatif pendanaan lainnya," ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (11/4).

Perusahaan pembiayaan yang tergabung dalam grup pembiayaan Astra Credit Companies (ACC) ini akan menerbitkan obligasi dengan Tingkat Bunga Tetap tahap III terdiri dari 3 Seri. Seri A dengan jangka waktu 370 hari dengan bunga 9,60 persen, Seri B dengan jangka waktu 36 bulan dengan bunga 10,50 persen dan Seri C dengan jangka waktu 48 bulan dengan bunga 10,60 persen.

Adapun penjamin pelaksana emisi obligasi adalah BCA Sekuritas, CIMB Securitas Indonesia, DBS Vickers Securities Indonesia, Indo Premier Securities dan Standard Chartered Securities Indonesia. Untuk penerbitan Obligasi Berkelanjutan Tahap III ini ASF memperoleh peringkat AAA (idn) dari Fitch.

Syndicated Loan dari Bank-Bank Jepang, Taiwan dan Asia lainnya menghasilkan pendanaan sebesar USD 670 juta untuk ASF. Bertindak sebagai mandated lead arranger adalah The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd., CIMB Bank Berhard, Singapore Branch, Citigroup Global Markets Singapore Pte. Ltd., CTBC Bank Co., Ltd., DBS Bank Ltd.,

Sumber : Merdeka.com

Pemerintah Pasrah Freeport Tak Setor Dividen


TEMPO.CO Jakarta:Pemerintah pesimistis perusahaan tambang asal Amerika Serikat, PT Freeport Indonesia, mau menyetorkan dividen pada tahun ini kepada negara. "Kami sudah beberapa kali minta agar membagikan dividen, tapi karena kepemilikan negara kurang dari 10 persen maka kecil kemungkinan usul kami disepakati oleh pemegang saham mayoritas," kata Deputi Bidang Industri Primer Kementerian Badan Ushaa Milik Negara (BUMN), Zamkhani, kepada Tempo, Kamis, 10 Maret 2014. (baca:Rugi Kurs, Target Setoran Dividen Tak Tercapai)
Menurut dia, dividen Freeport pada tahun lalu sebesar Rp 1,5 triliun hingga kini belum disetorkan. Biasanya, perusahaan itu membayar dividen dimuka sebanyak tiga atau empat kali. "Jadi begitu rapat umum pemegang saham, biasanya ditetapkan sama dengan yang telah dibayarkan sehingga tidak ada lagi setoran tambahan." (baca:2013, Freeport Indonesia Tak Bayar Dividen)
Dengan tidak masuknya setoran pada tahun ini, dia menduga rapat umum yang bakal digelar April atau Mei nanti dipastikan tidak ada pembagian dividen."Itu pertanda tak ada dividen," kata Zamkhani.
Sebelumya Wakil Menteri BUMN Mahmuddin Yasin mengatakan, target dividen BUMN 2013 sebesar Rp 40 triliun tidak tercapai. Realisasinya, perusahaan milik negara hanya bisa menyetor sekitar Rp 37,5 sampai Rp 38,5 triliun. "Ini tahun buku 2013 yang akan dibayarkan dalam APBN 2014," ujarnya.
Dia menjelaskan, tidak tercapainya target setoran dividen 2013 lantaran situasi ekonomi tahun lalu membuat beberapa BUMN mengalami rugi kurs. Dia mencontohkan PLN yang tidak menyetor deviden karena merugi. Begitu juga Freeport yang tidak membayarkan deviden karena membutuhkan dana untuk ekspansi.
Untuk kekurangan tersebut, Yasin mengatakan Kementerian berencana berkoordinasi Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. Selain itu Kementerian juga akan melaporkan kepada DPR untuk menjelaskan bahwa dividen yang akan disetor dalam APBN P tidak tercapai.
Pada 2013, laba BUMN tercatat sebesar Rp150,7 triliun. Angka ini lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya Rp150 triliun. Menyoal target laba dan pendapatan sepanjang tahun ini, Yasin mengakui, masih terdapat sekitar 20-30 BUMN yang belum menyelenggarakan rapat umum pemegang saham. "Kalau sudah rapat umum, baru kami tahu rencananya." (ANANDA PUTRI)
SumberTEMPO.CO

Bank of America Sepakat Bayar Denda Rp 8,8 Triliun


JNew York:Bank of America, yang berkantor pusat di Charlote, North Carolina, Amerika Serikat, sepakat membayar denda dan mengembalikan dana konsumen sebesar US$ 783 juta atau sekitar Rp 8,8 triliun. Hal itu berkaitan dengan kasus informasi menyesatkan terhadap pemegang kartu kredit.
Menurut Badan Perlindungan Keuangan Konsumen (Consumer Financial Protection Bureau) Amerika Serikat, dari angka total kewajiban itu, sekitar US$ 738 juta (Rp 8,3 triliun) merupakan dana kompensasi yang harus dibayarkan kepada pemegang kartu kredit yang dirugikan. Sisanya, US$ 45 juta (Rp 510 miliar), merupakan denda yang harus dibayarkan kepada regulator.
Bank ini melakukan praktek penjualan dan pemasaran kartu kredit untuk produk »Perlindungan Identitas” pada 2010–2012 yang dianggap menyesatkan. Ada sekitar 3 juta pemegang kartu kredit yang terkena dampak praktek penyebaran informasi yang tidak benar dari pemasaran kartu kredit tersebut.
Direktur Consumer Financial Protection Bureau, Richard Cordray, mengatakan Bank of America telah melakukan penipuan dalam praktek pemasaran dan penjualan. »Berdalih untuk melindungi data nasabah dari pencurian melalui produk Perlindungan Identitas, bank memberikan tagihan yang tidak adil kepada pemegang kartu kredit,” kata Cordray.
Dia menambahkan, untuk produk perlindungan identitas, bank mengutip biaya US$ 12,99. »Namun banyak nasabah yang mengklaim bahwa mereka tidak merasakan manfaat sama sekali. Bahkan, mereka mengaku sulit mendapatkan akses informasi ihwal produk itu,” dia menjelaskan.
Namun, juru bicara Bank of America, Tony Allen, menyangkal semua tuduhan tersebut. Ia menyatakan pihaknya telah menghentikan pemasaran produk perlindungan identitas sejak Desember 2011 dan membatalkan produk kartu kredit pada Agustus 2012.
Bank of America juga pernah menghadapi kasus yang berhubungan dengan efek beragun hipotek atau krisis kredit perumahan yang berdampak krisis finansial pada 2008. Bank ini terkena sanksi denda US$ 9,5 miliar yang harus dibayarkan kepada Fannie Mae dan Freddie Mac karena memberikan informasi yang menyesatkan tentang penerbitan efek beragun aset.
SumberTEMPO.CO