Tentang yang punya blog ini....

Foto saya
Depok, Depok, Indonesia
I just a simple girl who try to be a good person, not for my self but for my parents and my family.I just wanna see them to be proud with me,, I'm not the perfect one, but I always try to be better.

08/05/13

Grammar


26. Peter and Tom plays tennis every afternoon with Mary and me.

                                  A       B                    C                        D

In this sentences, the verb plays in answer A is incorrect because the sentences is Simple Present Tense. The subject in this sentence isi Peter and Tom, in Simple Present Tense the Verb plays used for the subject He, She or It. So, the correct verb is play not plays.

Simple present tense = S + V(s/es) + O/Adv

 

32. Please give me a few coffee and some donuts if you have any left.

                      A         B                               C                        D

In this sentences, the verb a few in answer B is incorrect because a few are used with nouns that can be counted (countable) to show a small quantity. Supposedly if want to show that nouns can not be counted (uncountable) to indicate the amount of use a little bit.

18/04/13

On Vacation


On my vacation last year, me and my family having a great time in Pelabuhan Ratu Beach. It’s a wonderful to be away from our daily activities. Before leaving home, we prepare the goods we want to take. Such as clothes, mat, food, and a camera. We went  at 10 am. As the situation on vacation, the road is very crowded. We were stuck in traffic. So time in the trip becomes longer.

On the way, I saw a lot of interesting places. Unfortunately, because the journey is still far away we can not go over to it. When arrived at the destination, we went to the beach to go down. Unfortunately, because it is very crowded the beach being dirty. Reducing the beauty of the beach should be. We also defer to go down. Then we look back beach about a situation better. Finally we found the beach  were clean enough. Her visitors are not too crowded.

A long journey made ​​us all feel hungry. So we decided to open up the mat and enjoy the food we brought. It's amazing itfeels to eat with family while looking outstanding natural beauty. Plus the beach breeze in the afternoon.After eating, we played. There is a sand play, there is also a play beach ball. We also do not forget to take pictures.

It's amazing view of the beach in the afternoon. We also do not miss to enjoy a beautiful sunset. After the play we immediately clean the body. Near the coast there are bathrooms rental can we use to shower. Today was getting dark, we decided to leave the beach and looking for a place to stay. Apparently the holidays make all places to stay full. If there are empty, the price is quite expensive. We kept circling to find places to stay. And finally we get a pretty good place to stay and the price is not too expensive. After receiving room, we decided to take a break.

The next morning, at 7 o'clock, we went to the beach again. But before we had breakfast. We went with a different beach yesterday that we attended. Atmosphere was pretty deserted beaches. We swam while playing the waves. We are also reminded to stay play in a safe place.

We played for about 3 hours. More and more crowded beaches. We immediately decided to finish the play. When finished playing we cleanse the body. We do not waste the chance to enjoy coconut ice provided by the merchants. It feels really fresh. Then we returned to the inn, and then packed up our stuff. Do not let anyone behind. Since we'll be home soon. On the way home, we stopped in the souvenir shop because I want to buy some presents before we leave. It was a very nice holiday with the family. We plan to return with friends on holiday to different places. We will also invite families who can not participate at this moment. Because we rarely to go together. When we got home, we got ready to return to daily activities. Holidays are over.

12/03/13

My Typical Activity


Almost in the morning, I get up at 05:30 am. After  that I pray. Usually my mom made ​​me a cup of tea . Sometimes after that, I usually wash my motor cycle. It takes me about 45 minutes. I take a bath at 8:00 am. I breakfast at 08:30 am.  I usually watch television while I have breakfast. I go to work at 09:00 am every morning. I usually drive to work. It takes me about 60 minutes.

When I am at my work I usually work on the computer ,I always check my emails when I get to work. Once a month I make sales and financial reports to the boss. At 01:00 pm most days I have lunch. At 03:00 pm I and my friend have afternoon coffee. At 04:00 pm, I pray Ashar. Then I finish the job.

When my work is finished, usually at 5 pm I went to college. Usually the trip takes 60 minutes. Arriving on campus, I headed to the mosque to pray maghrib.After that I had dinner with my friends and then we went to class to learn. While waiting for the lecturer, usually me and my friends talk about their daily activities as well as our work. Usually the class finished at 08:30 at night. Then I go home.

Upon arriving home, I immediately clean the body. Then I pray Isha. After that, I watching television with my mother and my grandmother in the living room. Then at 10:00 pm I sleep.

On Weekend , I was watching a television show in the morning. Usually a holiday or cooking. I am very excited to watch cooking shows. At 07:30 am I take a bath. And then I headed to campus. Usually the class finished at 04:00 pm .I go home or sometimes I go shopping with my friends. When I arrived at home, I showered and then gathered with family. Then I took a break, usually while watching television or reading a book and prepare for the next day activity.





27/12/12

Kartu Jakarta Pintar Sedot Anggaran Rp 804 M


Liputan6.com, Jakarta : Dinas Pendidikan DKI Jakarta menerima dana paling besar dari RAPBD 2013. Ini sesuai dengan keinginan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang menjadikan sektor pendidikan sebagai penerima dana terbesar untuk anggaran tahun depan.
"Sampai sejauh ini RAPBD 2013 Rp 11,5 triliun untuk Dinas Pendidikan, persentasenya 26-27 persen dari APBD secara keseluruhan di DKI Jakarta," ujar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, usai rapat dengan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Senin (10/12/2012).
Salah satu pos penerima dana itu, lanjutnya, adalah para pelajar yang mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP). Di tahun 2013 diperkirakan ada sekitar 332 ribu anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu yang akan menerima KJP. "Setelah dikalkulasi, Rp 804 miliar untuk KJP," jelasnya.
Rinciannya, untuk jenjang SMA sebesar Rp 240 ribu per bulan setiap peserta didik, jenjang SMP Rp 210 ribu per bulan, dan untuk jenjang SD Rp 180 ribu per bulan.
Selain itu, sekitar 55 persen atau hampir Rp 6,4 triliun dialokasikan untuk belanja pegawai berupa gaji tunjangan kinerja daerah, tunjangan profesi, sampai pada tunjangan tambahan guru yang di bawah Kementerian Agama. "Yang di bawah Kementerian Agama kami kasih Rp 1 juta per bulan," katanya.
Sisanya, Rp 3 triliun digunakan untuk bantuan operasional pendidikan (BOP) dan Rp 1,5 triliun dialkokasikan untuk belanja langsung. "Jadi Rp 10,2 triliun boleh dikatakan belanja tetap yang sudah pasti kita keluarkan pada sasaran masing-masing," kata Taufik.
Dia mengatakan, tahun ini anggaran untuk Dinas Pendidikan sekitar Rp 10 triliun atau 28 persen dari APBD 2012. "Persentasenya sama, tapi kan tahun ini anggaran DKI Rp 40 triliun, tahun depan mencapai Rp 46 triliun," pungkas Taufik.(Ado)

Sektor pendidikan memang layak untuk mendapat persentase paling besar dalam APBD. Hal ini untuk mendukung kemajuan dunia pendidikan serta memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak yang ingin bersekolah namun tidak memiliki biaya. Lewat dunia pendidikan, pemerintah akan menciptakan generasi-generasi muda berkualitas yang tentunya akan menjadi penerus bangsa. Namun dalam pendistribusian dana tersebut, tentunya harus dilakukan pengawasan yang ketat agar tidak disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu.

Suryadi, Mantan Penjaga Toko yang Sukses di Bra


Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal

KOMPAS.com - Jalan Suryadi Sasmita menuju sukses terbilang panjang. Maklumlah, resep sukses Suryadi terbilang sederhana: kerja, kerja, dan kerja. Ketekunan Suryadi selama puluhan tahun tidak sia-sia jika melihat popularitas merek pakaian dalam Wacoal.

Di balik nama besar pakaian dalam wanita ini ada kerja keras Suryadi Sasmita. Memulai usaha dari nol, Suryadi kini menikmati penjualan Wacoal yang selalu naik 30 persen per tahun.
Wacoal kini memiliki lebih dari 50 gerai. Angka itu belum termasuk ratusan gerai Wacoal yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan. “Kalau soal aset, sudah tentu bertambah bila dibandingkan dengan awal menjalankan usaha,” kata  Suryadi, yang menyandang status sebagai Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal.

Ayah dari tiga orang ini kini memiliki sepuluh perusahaan di bidang garmen. Namun, kesuksesan itu tidak datang dengan mudah. Maklum, pria kelahiran Jakarta 12 April 1948 ini berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Suryadi menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus mengurus kelima adiknya. Faktor itulah yang menuntutnya untuk bekerja keras. Bersama sang ayah, dia membuka usaha konveksi tas. Sayang, usaha itu harus gulung tikar karena bangkrut.

Lulus SMA, Suryadi bekerja di toko tekstil di Pasar Pagi, Jakarta, sebagai penjaga toko. Untuk mendapatkan penghasilan lebih, ia bekerja hingga dua sif. Sikap kerja kerasnya ini menarik perhatian bosnya. Suryadi pun dikuliahkan di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Sambil kuliah, ia  tetap bekerja. Bahkan lebih keras bekerja, akibatnya dia tidak berkonsentrasi untuk kuliah.

Baru enam bulan duduk di bangku kuliah, Suryadi memilih keluar dan fokus bekerja. Maklum, ia harus membantu menghidupi keluarganya. Dari hasil bekerja di toko, Suryadi mampu membeli toko kecil di daerah Jembatan Lima. Toko itu dikelola oleh anggota keluarganya, sementara Suryadi tetap bekerja di Pasar Pagi. 

Setelah empat tahun bekerja sebagai penjaga toko, Suryadi pindah jalur menjadi karyawan di pabrik perusahaan tekstil asal Jepang, C. Itoh. Di perusahaan tekstil kelas dunia itulah, Suryadi mengawali karier sebagai pengantar dokumen. “Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau hanya bekerja sebagai pengantar dokumen. Saya pun memberanikan diri menghadap ke pimpinan perusahaan dan meminta pekerjaan saya ditambahi. Saya minta diizinkan berjualan benang,” tutur dia.

Permintaan Suryadi dipenuhi sang atasan. Ia pun merangkap tugas. Dari pagi hingga sore, ia menjadi pengantar dokumen. Begitu matahari beranjak ke barat hingga malam hari, Suryadi menjadi salesman. “Target penjualan setahun bisa saya penuhi dalam setengah tahun. Saya pun diangkat menjadisalesman,” tutur dia.

Bersamaan dengan karier yang melesat, jaringan Suryadi kian luas. Sekitar tahun 1976, Suryadi mampu mendirikan perusahaan trading bernama Moritex Trading Company. Tahun berikutnya, ia membuka usaha rajut (knitting) bernama Moritex Knitting. “Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari. Selama pagi hingga sore, saya masih bekerja sebagai sales representative di C. Itoh,” kenang dia.

Menjalin pertemanan
Baru setelah delapan tahun bekerja di C.Itoh, Suryadi mundur dan fokus ke perusahaannya. “Tiba-tiba, ada pelanggan saya yang menawarkan usaha lain. Pada 1980, dia menawarkan lisensi Wacoal yang diperolehnya,” ujar Suryadi.

Menjadi salesman merupakan kesempatan Suryadi membuka jaringan yang seluas-luasnya. “Prinsip saya, sales itu jangan hanya berdagang yang ada di kepala. Tapi, bagaimana memberikan informasi produk yang benar ke calon klien dan membangun pertemanan. Kalau mereka merasa puas, pasti akan pesan,” kata dia. 

Dari jaringan itu, Suryadi dipercaya seorang pelanggannya untuk mengelola perusahaan pakaian dalam wanita asal Jepang bermerek Wacoal. “Dia menilai saya pekerja keras, jadi dia percaya jika saya yang pegang lisensi Wacoal,” ucapnya.

Ia pun menutup usaha trading dan knitting, serta fokus mengelola Wacoal. “Ternyata tidak mudah. Dalam lima tahun pertama, saya rugi,” kenangnya. Hal itu dikarenakan sulitnya memasarkan produk pakaian dalam yang harganya jauh lebih mahal daripada harga produk sejenis yang sudah ada. Apalagi, saat itu, belum banyak department store.

Suryadi pun mengerahkan keluarga dan jaringannya untuk mempromosikan Wacoal. Nama Wacoal perlahan terdengar. Di tahun ke enam, Wacoal akhirnya meraup untung. “Sepuluh tahun pertama, kami harus kerja keras memperkenalkan Wacoal. Hingga akhirnya di sepuluh tahun kedua, Wacoal mampu dipasarkan secara nasional,” terang Suryadi.

Memasuki dekade ketiga atau sekitar tahun 2000, Wacoal buatan Indonesia masuk ke pasar luar negeri. Dari pabrik seluas 2,7 ha, produk Wacoal kini mengalir ke sembilan negara. Masing-masing Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Taiwan, Jepang, China, dan Amerika Serikat. (Fransiska Firlana/Kontan)

Cerita Bapak Suryadi sungguh sangat menginspirasi. Dari seseorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, kini beliau dapat menjadi Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal. Gerai tokonya kini dapat kita temukan di berbagai pusat perbelanjaan. Sungguh patut dicontoh kerja kerasnya. Dan bagi kita yang ingin berwirausaha, jangan berkecil hati. Teruslah konsisten dalam mencapai keinginan- keinginan tersebut, karena selama kita berusaha, kesempatan akan menanti.

Omzet Ratusan Juta dari Broker Waralaba


KOMPAS.com - Bisnis waralaba terus menggeliat dalam beberapa tahun terakhir. Minat orang terhadap waralaba ini juga membawa berkah bagi para broker atau agen pemasaran waralaba. Tak heran, bila bisnis broker waralaba semakin moncer.

Biasanya, selain bisnis waralaba, broker ini juga memasarkan bisnis dengan skema kemitraan atau business opportunity (BO). Salah satu pemain yang berprofesi sebagai broker waralaba adalah Sidik Rizal di Jakarta.

Ia telah terjun ke bisnis ini sejak tahun 2008. Sebelum bergelut dengan dunia broker waralaba, ia bekerja sebagai seorang desain grafis di perusahaan biro periklanan. Namun, karena tak suka menjadi karyawan, ia pun terpikir membuat usaha sendiri.

Awalnya, Sidik fokus menawarkan keahliannya membuat website ke sejumlah pelaku usaha. Kebetulan, banyak kliennnya yang menawarkan kerjasama waralaba dan kemitraan.

Salah satu kliennya pertamanya adalah Pecel Lele Lela. Setelah kerap membuatkan website, Rizal pun semakin akrab dengan dunia usaha. Ia banyak belajar mengenai waralaba dan kemitraan.

Sejak itu, bisnisnya berkembang dari sekadar membuatkan website menjadi broker franchise. Untuk menjaring klien, Rizal getol mendekati para pelaku usaha. Ia menceritakan, pada awal-awal menjadi broker, dirinya sempat berkeliling di daerah Bekasi, Jawa Barat, guna mencari klien.

Jika melihat ada usaha yang prospek dikembangkan, Rizal mengajak si pemilik usaha untuk bekerjasama mengembangkan bisnis melalui skema waralaba.

Sebagai seorang broker, Rizal akan memoles usaha tersebut agar menarik ditawarkan ke para investor. Secara teknis, banyak hal yang dilakukannya demi memperbaiki citra usaha yang akan dijualnya.

Di antaranya, membuatkan standar operasional untuk usaha tersebut, termasuk membantu mengubah manajemen usahanya.

Selain itu, fungsi broker ini membantu menyediakan karyawan sesuai kebutuhan. Rizal juga membuatkan konsep desain interior yang baru ke kliennya.

Terakhir, tentu saja membuatkan website. Setelah semuanya siap, barulah Rizal memasarkan usaha tersebut. Ada satu tips yang dimilikinya agar usaha kliennya bisa berkembang dalam konsep kemitraan.

Yakni, memaksimalkan peran media sebagai saluran pemasaran, baik media elektronik maupun internet. Menurut Rizal, proses yang dibutuhkan untuk mengubah usaha biasa menjadi waralaba sekitar satu bulan sampai tujuh bulan.

Biaya yang dipungut sebagai broker sangat bervariatif. Untuk usaha kecil yang mengusung konsepbooth, Rizal biasanya memungut biaya antara Rp 5 juta– Rp 15 juta.

Biaya untuk usaha menengah sekitar puluhan juta, dan kelas restoran bisa sampai ratusan juta. "Untuk kelas restoran ini, biaya paling mahal sampai Rp 500 juta per paket," tutur Rizal.

Di luar itu, Rizal juga mendapat komisi dari setiap investor yang bergabung sebagai terwaralaba atau mitra. Besaran komisinya 5 persen–10 persen dari nilai paket investasi. Dari usaha ini, Rizal bisa mengantongi omzet Rp 100 juta per bulan.

Agen waralaba lainnya adalah Mulyadi Handojo, Komisaris PT Mahir Food di Jakarta. Berdiri tahun 2012, perusahaan anyar ini langsung menggandeng PT Best Waralaba sebagai perusahaan agen waralaba yang sudah senior di bisnis broker waralaba.

Best Waralaba sendiri sudah sukses memasarkan beberapa usaha, seperti Jupe Fried Chicken, Rocket Fried Chicken, dan Tokiyo Bento. Kebanyakan usaha itu milik para artis dan publik figur.

Bekerjasama dengan Best Waralaba, Mahir Food juga fokus memasarkan usaha yang dimiliki para artis dan publik figur. Mereka memilih memasarkan usaha artis karena cepat berkembangnya dibanding orang biasa.

Sebagai broker, Mahir Food tidak hanya memoles sebuah usaha agar menarik ditawarkan ke para investor. Tapi juga membuatkan usaha bagi para artis tersebut.

Jadi, saat ditawari kerjasama, banyak artis yang sebenarnya belum memiliki usaha. "Usahanya kami buatkan sendiri," katanya.

Cuma, sudah ada kesepakatan sebelumnya bahwa si artis bersedia menanamkan modal dan membolehkan namanya dipakai sebagai brand usaha. Sebagai payung hukum, nanti dibuat PT atau CV yang menaungi brand tersebut.

Saat ini, misalnya, Mulyadi sedang menjajaki kerjasama dengan presenter terkenal Chantal Della Concetta untuk membuka rumah makan steak (steik). "Nanti diluncurkan awal 2013," katanya.

Kata Mulyadi, butuh waktu tiga bulan sampai usaha kuliner ini bisa diluncurkan. Mulyadi menunggu setahun agar omzetnya jelas dan terbukti manajemen bisa berjalan lancar baru menawarkan kemitraan. Mahir Food berhak atas 40 persen saham perusahaan itu. (Revi Yohana, Marantina/Kontan)  


Banyaknya bisnis waralaba yang kini banyak bermunculan tentu sangat membutuhkan jasa para broker untuk memperkenalkan usaha mereka pada masyarakat. Broker waralaba ini tentunya sangat membuka peluang pekerjaan. Tanpa broker, suatu bisnis waralaba akan lambat untuk dikenal masyarakat. Cara yang digunakan oleh broker juga efisien, seperti membuat web waralaba yang mereka ingin perkenalkan. Cara ini cukup baik, karena penggunaan dunia maya sebagai area pemasaran lebih mudah untuk ditujukan pada sasaran waralaba yang dimaksud. 

11/12/12

Sinonim, Hiponimi, Homonimi, Polisemi dan Antonimi


Sinonim

  • Binatang = Fauna

Komodo merupakan salah satu binatang langka yang dilindungi oleh pemerintah.
Di Ragunan terdapat berbagai jenis macam fauna yang unik.

  • Baju = Pakaian

Risa memakai baju baru di hari raya Idul Fitri.
Kakak membeli pakaian baru di Toko Swalayan. 

 Hiponimi
  • Buah = apel, jeruk, pisang

Kakak sedang ke Pasar untuk membeli buah, diantaranya apel, jeruk dan pisang.

  • Kue = bolu, serabi, bika ambon

Ibu sedang membuat bermacam-macam kue untuk acara ulang tahun adik, diantaranya bolu, serabi dan bika ambon.

Homonimi

  • Amplop

Tedi sedang menulis alamat pada amplop yang akan digunakan untuk mengirim surat kepada temannya. (amplop = amplop surat biasa)
Agar bisa disetujui perizinanya, ia memberi amplop kepada para pejabat  (amplop = sogokan atau uang pelicin)

  • Bisa

Wawan bisa bermain gitar dengan sangat baik. (bisa = mampu)
Bisa ular cobra itu sangat berbahaya dan mematikan. (bisa = racun)

Polisemi

  • Apel

Setiap hari Senin, Dini mengikuti apel pagi di sekolahnya. (apel disini maksdunya upacara).
Ibu membawakan sekeranjang apel untuk menjenguk temannya yang sedang sakit. (apel disini maksudnya buah).
  • Darah

Saya masih punya hubungan darah dengan keluarga Bu Rani.
Wajahnya berlumuran darah setelah kepalanya terbentur tembok.

Antonimi

  • hidup : mati

Hidup dan mati seseorang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita tidak bisa menentukan takdir.

  • naik : turun

Akibat tidak suka berolah raga, berat badan Rina naik 5 kg.
Karena sedang musim cabai, harga cabe merah di pasar menjadi turun.