Presiden Direktur PT
Indonesia Wacoal
KOMPAS.com
- Jalan
Suryadi Sasmita menuju sukses terbilang panjang. Maklumlah, resep sukses
Suryadi terbilang sederhana: kerja, kerja, dan kerja. Ketekunan Suryadi selama
puluhan tahun tidak sia-sia jika melihat popularitas merek pakaian dalam
Wacoal.
Di balik nama besar pakaian dalam wanita ini ada
kerja keras Suryadi Sasmita. Memulai usaha dari nol, Suryadi kini menikmati
penjualan Wacoal yang selalu naik 30 persen per tahun.
Wacoal kini memiliki lebih dari 50 gerai. Angka
itu belum termasuk ratusan gerai Wacoal yang tersebar di berbagai pusat
perbelanjaan. “Kalau soal aset, sudah tentu bertambah bila dibandingkan dengan
awal menjalankan usaha,” kata Suryadi, yang menyandang status sebagai
Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal.
Ayah dari tiga orang ini kini memiliki sepuluh
perusahaan di bidang garmen. Namun, kesuksesan itu tidak datang dengan mudah.
Maklum, pria kelahiran Jakarta 12 April 1948 ini berasal dari keluarga yang
kurang mampu.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas
(SMA), Suryadi menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak lelaki tertua, ia
harus mengurus kelima adiknya. Faktor itulah yang menuntutnya untuk bekerja
keras. Bersama sang ayah, dia membuka usaha konveksi tas. Sayang, usaha itu
harus gulung tikar karena bangkrut.
Lulus SMA, Suryadi bekerja di toko tekstil di
Pasar Pagi, Jakarta, sebagai penjaga toko. Untuk mendapatkan penghasilan lebih,
ia bekerja hingga dua sif. Sikap kerja kerasnya ini menarik perhatian bosnya.
Suryadi pun dikuliahkan di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Sambil
kuliah, ia tetap bekerja. Bahkan lebih keras bekerja, akibatnya dia tidak
berkonsentrasi untuk kuliah.
Baru enam bulan duduk di bangku kuliah, Suryadi
memilih keluar dan fokus bekerja. Maklum, ia harus membantu menghidupi
keluarganya. Dari hasil bekerja di toko, Suryadi mampu membeli toko kecil di
daerah Jembatan Lima. Toko itu dikelola oleh anggota keluarganya, sementara
Suryadi tetap bekerja di Pasar Pagi.
Setelah empat tahun bekerja sebagai penjaga
toko, Suryadi pindah jalur menjadi karyawan di pabrik perusahaan tekstil asal
Jepang, C. Itoh. Di perusahaan tekstil kelas dunia itulah, Suryadi mengawali
karier sebagai pengantar dokumen. “Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau
hanya bekerja sebagai pengantar dokumen. Saya pun memberanikan diri menghadap
ke pimpinan perusahaan dan meminta pekerjaan saya ditambahi. Saya minta
diizinkan berjualan benang,” tutur dia.
Permintaan Suryadi dipenuhi sang atasan. Ia pun
merangkap tugas. Dari pagi hingga sore, ia menjadi pengantar dokumen. Begitu
matahari beranjak ke barat hingga malam hari, Suryadi menjadi salesman. “Target penjualan
setahun bisa saya penuhi dalam setengah tahun. Saya pun diangkat menjadisalesman,”
tutur dia.
Bersamaan dengan karier yang melesat, jaringan
Suryadi kian luas. Sekitar tahun 1976, Suryadi mampu mendirikan perusahaan trading bernama Moritex Trading Company. Tahun
berikutnya, ia membuka usaha rajut (knitting) bernama Moritex
Knitting. “Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari.
Selama pagi hingga sore, saya masih bekerja sebagai sales representative di C. Itoh,” kenang dia.
Menjalin pertemanan
Baru setelah delapan tahun bekerja di C.Itoh,
Suryadi mundur dan fokus ke perusahaannya. “Tiba-tiba, ada pelanggan saya yang
menawarkan usaha lain. Pada 1980, dia menawarkan lisensi Wacoal yang
diperolehnya,” ujar Suryadi.
Menjadi salesman merupakan kesempatan Suryadi membuka
jaringan yang seluas-luasnya. “Prinsip saya, sales itu jangan hanya berdagang yang ada di
kepala. Tapi, bagaimana memberikan informasi produk yang benar ke calon klien
dan membangun pertemanan. Kalau mereka merasa puas, pasti akan pesan,” kata
dia.
Dari jaringan itu, Suryadi dipercaya seorang
pelanggannya untuk mengelola perusahaan pakaian dalam wanita asal Jepang
bermerek Wacoal. “Dia menilai saya pekerja keras, jadi dia percaya jika saya
yang pegang lisensi Wacoal,” ucapnya.
Ia pun menutup usaha trading dan knitting, serta fokus mengelola Wacoal.
“Ternyata tidak mudah. Dalam lima tahun pertama, saya rugi,” kenangnya. Hal itu
dikarenakan sulitnya memasarkan produk pakaian dalam yang harganya jauh lebih
mahal daripada harga produk sejenis yang sudah ada. Apalagi, saat itu, belum banyak department store.
Suryadi pun mengerahkan keluarga dan jaringannya
untuk mempromosikan Wacoal. Nama Wacoal perlahan terdengar. Di tahun ke enam,
Wacoal akhirnya meraup untung. “Sepuluh tahun pertama, kami harus kerja keras
memperkenalkan Wacoal. Hingga akhirnya di sepuluh tahun kedua, Wacoal mampu
dipasarkan secara nasional,” terang Suryadi.
Memasuki dekade ketiga atau sekitar tahun 2000,
Wacoal buatan Indonesia masuk ke pasar luar negeri. Dari pabrik seluas 2,7 ha,
produk Wacoal kini mengalir ke sembilan negara. Masing-masing Singapura,
Malaysia, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Taiwan, Jepang, China, dan Amerika
Serikat. (Fransiska Firlana/Kontan)
Cerita
Bapak Suryadi sungguh sangat
menginspirasi. Dari seseorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, kini
beliau dapat menjadi Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal. Gerai tokonya kini
dapat kita temukan di berbagai pusat perbelanjaan. Sungguh patut dicontoh kerja
kerasnya. Dan bagi kita yang ingin berwirausaha, jangan berkecil hati. Teruslah
konsisten dalam mencapai keinginan- keinginan tersebut, karena selama kita
berusaha, kesempatan akan menanti.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar